Apa kabar cinta? Masihkah kau tunduk merunduk pada godaan yang merasuk. Apa kabar iman? Masihkah kau kuat diterjang badai ujian yang menghadang. Apa kabar hati? Masihkah kau tegar berani menantang sepi pada zaman yang tak pasti. Apa kabar sahabat? Masihkah kau setia berbagi cerita dan rasa dalam suka dan duka. Apa kabar jodoh? Masihkah kau setia menunggu di batas waktu saat Allah buat kita bersatu. Di dunia yang telah tua Dimana yang benar seakan salah. yang salah terlihat benar. Di waktu dimana orang kaku berbicara kebaikan. Malu mengatakan kebenaran. Takut mengikrarkan keislaman. Kita berdo'a padaNya, "Ya Allah, tuntun kami tuk tetap di jalanMu. Istiqomahkan kami dalam keridhoanMu. Dan golongkan kami tuk menjadi hambaMu yang beruntung" Aamiin. :) *disadur dari https://www.facebook.com/pages/Setia-Furqon-Kholid/
Postingan
Kilometer Zero-Nol Kilometer
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
titik nol di Paris, Perancis. Akhir-akhir ini ada beberapa kejadian yang membuatku tersadar satu hal. "Bahwasannya semua manusia itu akan kembali ke titik nol. Titik balik. Apapun itu." Pelajaran ini membuat pandangan baru bagi diriku. Misalnya, ketika kita menghadapi suatu kondisi dimana kita harus memutuskan sesuatu, maka kembalilah ke titik nol, dimana kita dulu membuat sesuatu itu menjadi ada. Atau bisa disederhanakan menjadi, apa tujuan awal kita mengadakan sesuatu itu. Ketika kita melihat seseorang berubah, perubahan yang drastis, dari segi apapun, sampai kita merasa kita kehilangan mereka, maka kembalilah ke titik nol, ke diri kita, siapa tahu kita tanpa sadar menyebabkan perubahan itu, meski mungkin kadarnya kecil sekalipun. Bila ada masa dimana masalah terjadi, dan semakin hari semakin rumit, maka kembalilah ke titik nol, siapa tahu kita ikut berkontribusi membuat rumit masalah, atau malah kita yang menyulut api masalah... Sederhana, Te...
Perasaan, Hati dan Langit.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Bagian terumit dari sebuah perasaan adalah mengontrolnya. Bicara tentang perasaan, maka kita juga bicara tentang hati, dan bicara tentang hati, pasti tak akan berkesudahan, terlalu panjang dan menarik. Ah hati selalu menarik hati, bukan? Kalian pernah merasakan marah? Mungkin karena masalah sepele yang seharusnya tidak masalah bagi kita, kita dengan gagahnya marah. Dan, Ketika itu kita merasa seperti ada dua hati yang tumbuh dalam tubuh kita, hati pertama ingin kita santai, hati kedua ingin kita marah. Kalian pernah merasakan bahagia? Mungkin saat itu kita diberikan kenikmatan yang luar biasa dari-Nya, apapun itu, hadiah, kejadian menyenangkan, nilai bagus, atau hal sepele seperti ditelpon orangtua. Ketika itu, Hati, yang menghasilkan perasaan, akan merasakan bahagia, tapi apa yang terjadi? Kadang hati kita juga seolah bercabang menjadi dua, yang kanan ingin mensyukuri kebahagiaan kita, yang kiri ingin meminta lebih dan merasa...
Seperti Inikah Kita...?
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pernah kita merasa bersalah? Merasa kalah? Merasa terpojok? Atau bahkan merasa menang? Merasa benar? Saya yakin pasti pernah kan?! Lalu, ketika kita merasakan itu semua, apa yang kita lakukan? Atau lebih tepatnya, apa yang kita katakan? Kalau kita salah, “aku kaya gini juga gara-gara kamu/dia” atau “tadi aku telat karena nungguin dia dandan tuh.” Kalau kita kalah, “ah aku kan sengaja kalah biar kamu ngerasain menang”. atau “coba aja kalo dia ga gangguin aku, aku pasti sudah menang.” atau “ menang udah biasa, sekali-kali kalah gapapa deh.” Kalau merasa terpojok, “aku ga terima kalau begini, dia juga sama posisinya sama aku” Ketika menang, “liat kan, aku emang jago, bagiku mah itu mudah, bisa kan aku?” Merasa benar, “tu kan benar, apa kubilang” atau “pokoknya aku maunya bla bla bla” Adakah salah satu contoh di atas pernah kita ucapkan? Sering? Jarang? Atau bahkan setiap kali merasakan kondisi itu kita selalu mengucapkan kata-kata itu? Ah manusia…unik...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Untukmu yang kunanti. :) With Love, Farinda. :) "Janji Alloh mungkin tidak datang dengan segera tapi akan selalu datang dengan pasti." Sekarang.... Aku memang tidak tau keberadaanmu. Tapi aku yakin, kau akan di pertemukan Alloh denganku saat masing-masing kita telah baik di hadapan Alloh. Jika aku menginginkan kau seorang yang baik di hadapan Alloh, maka ijinkanlah aku memperbaiki diriku dengan kebaikan sesuai dengan ketentuan Alloh. Jika aku menginginkan kau memberi cintamu hanya untukku, maka ijinkanlah mulai sekarang aku menjaga hati dan cinta ini hanya untukmu. Jika sekarang aku menginginkanmu menjaga akhlak dan pandanganmu untukku, maka ijinkanlah mulai sekarang aku menjaga akhlak dan pandanganku hanya untukmu. Dan ketika tiba waktunya Alloh untuk mempertemukan kita, indahnya cinta yang terbingkai dengan syurga pernikahan akan menjadi penggenap separuh dari agama ini, ... Kalau boleh aku jujur, penantian panjang ini layaknya malam yang semakin gela...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Di depan fakultas dengan wajah tak karuan menunggu seseorang yang tak kunjung datang, sebel karena dia tak memenuhi janjinya. Namun, segera mereda ketika adek kelas saya lewat menyapa dan meminta saya untuk menemaninya belajar materi UTS. A: Mba Far, Apa bedanya 'unspeakable' dengan 'unspoken'? Tolong diberi contoh kalimat yang konkret. B: 'Unspeakable' memiliki pengertian 'ekstrim' atau 'luarbiasa' sehingga sulit diperikan alias sulit digambarkan dengan kata-kata. Dalam hal ini orang yg bicara mungkin sudah berusaha menjelaskan apa yang disaksikannya tapi dia tidak bisa. Contoh: "What I witnessed in Sierra Leone was unspeakable brutality." Kata 'unspeakable' bisa diganti dengan undescribable, nameless, atau beyond description. Orang yang menyaksikan fenomena seperti itu cuma bisa bilang "I'm speechless... words betray me." Lain lagi dengan kata 'unspoken.' Artinya jelas, yaitu 'tak ...
Aku Kau dan Dunia Maya.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kau tidak perlu menuliskan namaku di bio twittermu, kau hanya perlu menuliskan namaku dalam doa-doamu pada Tuhan . Kau tidak perlu memamerkan kemesraan kita berdua di timeline, cukup kita saja yang tahu seperti apa hubungan kita. Toh kita berdua yang menjalani. Kau tidak perlu terlalu sering meng-sms-kan kata "aku sayang kamu" seakan itu rutinitas, kau cukup mengucapnya dengan tulus, meskipun jarang. Kau tidak perlu memuji perbuatanku di statusmu, aku takut kau juga akan jadi orang yang memakiku di statusmu jika aku khilaf. Kau tidak perlu kasar pada mereka yang mengagumimu via mention, aku takkan marah bila kau ramah. Aku senang kau memiliki pengagum dan masih bersamaku. Kau tidak perlu cemburu jika aku membalas chat dari mereka. Mereka hanya tahu aku sebatas emoticon, kau yang tahu hati aku berada dimana. Kau tidak perlu memberikan aku username dan password social mediamu, dasar dari hubungan kita itu rasa "percaya" bukan? Bukan rasa "c...