Postingan

No Pain No Gain, Gan! ^^

Saya termasuk orang yang berprinsip "no pain no gain" . Apa pun keinginan dan tujuan kita, selalu butuh proses dan "sakit" dulu. Mau hidup sehat, tapi tidak mau capek olahraga atau menjaga pola makan, malah memilih obat pelangsing atau sedot lemak, menunjukkan kita sebagai makhluk instan. Tidak mau susah, tapi mau hasil yang cepat. Seperti halnya mie instan: cepat, enak, tapi tidak sehat. Padahal sejatinya hidup adalah berproses . Sejak bayi kita tidak langsung bisa berdiri atau cari makan sendiri seperti beberapa bayi binatang. Artinya Tuhan memang menyuruh manusia untuk berjuang, berusaha keras demi mencapai tujuannya. Lihatlah bayi yang tidak kenal menyerah demi bisa tengkurap, duduk, berdiri, berjalan. Awalnya seperti mustahil, tapi jika dilakukan secara rutin, hasilnya sangat luar biasa, mereka bisa berjalan bahkan berlari. Orang hebat, menurut saya, adalah orang yang konsisten. Orang konsisten mampu mengatasi beratnya memulai, bertahan dalam rasa...
Sekali lagi saya melihat fitnah yang cukup mampu mengotori hati. Para pembuat fitnah yang hobinya merekayasa segala hal dan mengorek-orek (menggali hingga tak bersisa celah kebaikan sedikitpun) kesalahan orang lain mungkin sudah siap dengan kaplingan luas mereka di neraka. Yah, Mungkin... Lalu yang saya  sayangkan  adalah mereka yang berhati baik, ibadah sembahyangnya rajin, shodaqoh lancar, bertutur sopan, berperilaku santun    malah  yang ikut-ikutan menyebarkan fitnah tersebut, yang akhirnya menjalar ke mana-mana, lalu sampai ke jutaan orang, dan mengotori hati kita semua. Tidakkah mereka tahu fitnah yang mereka sebar seenaknya dengan penuh kebencian tanpa klarifikasi itu laksana najis yang mereka bagikan ke saudara-saudaranya, lalu mengendap di hati mereka semua. Beribadah sambil membawa najis di hati, bukankah itu penghinaan seorang hamba kepada Tuhannya?
Kagum itu manusiawi, sedang ikhlas melepas itu pilihan!  (I think) You may know, aku pernah membayangkan kita bisa membangun hari kedepan bersama, memasuki mahligai emas rumah tangga berdua, menghadapi arus kehidupan berdua, menjalani detik demi detik pada menit menuju jam berbagi dengan bulan bulan hingga tahun dimana salah satu kita menghembuskan nafas terakhir. Kurasa itu lumrah sekali dan terjadi hampir pada semua orang yang berakal sehat, kagum akan sosok lelaki sholeh, bijak penuh santun, cerdas namun tetap rendah hati, dan berjiwa pemimpin sepertinya.  Tapi, aku tahu, aku tak mau mendahului Engkau atas perkara ini Aku bukan pendongengboneka tangan yang bisa menentukan sendiri jalan cerita ini atas kehendakku Aku pun tak menjamin apakah rasa ini benar-benar nyata walau sudah sekian lama hinggap di relung terdalamnya, hati.  Aku pikir-mungin kau juga-bahwasanya kita punya jalan cerita masing-masing untuk menjemput masa depan. (Meski berat tap...
Suatu pagi di sebuah kota metropolitan, sang ayah-yang telah banyak makan garam-seorang sufi terkenal di dunianya, menasihati seorang putri tercintanya, terekam nasihat si abah (panggilan kesayangan sejak belia) yang selalu terngiang di benak sang putri hingga beranjak dewasa,  "Nduk, semakin kamu membenci seseorang, semakin sengit pula kamu menunjukkan rasa tidak senang, maka semakin terlihat bahwa peringkat kalian tidak jauh berbeda: sama jeleknya. Segala buruk sangka dan ikhtiar untuk membalas kesumat akan menjatuhkanmu pada level yang sama hinanya dengan dia. Jika kamu benar-benar benci dan tidak suka, diamlah. Dan kalau kau punya ketegaran jiwa, maafkanlah. Memaafkan tak harus berarti membebaskan dia dari dosa-dosanyanya, membuang iblis dari pikiranmu, itulah tujuan yang lebih utama. Semoga Alloh menganugerahimu keluhuran ikhlas dan keluasan ruang memaafkan untuk siapapun orang yang telah memporak porandakan hati dan pikiran baikmu." Barakallohu Abi ...
Cinta tidak mengajari kita lemah.  Dan, pengabdian tak membuat kita hina, Hanya kecintaan diri dan dunia  Yang senantiasa menghembus mantra Membuat setia menikmat perihnya jiwa. Gantungkan cintamu Pada Sang Maha Tinggi tak ada lagi lutut terkulai lunglai meratapi hati yang sangsai.  With Love, Farinda. :)
Hatiku tak izinkanku untuk  terlalu  mencintaimu Lisanku tak izinkanku untuk  terlalu  memujamu Karena kabut masih menggebuh Pada pagi – pagi jingga biru Karena aku tak tahu Apakah  engkau yang halal bagiku Yang akan membimbing pada Surga-Nya untuk malaikat – malaikat kecilku Yang akan temani malam – malam merah jambuku Yang akan menjadi sandaran bahuku Yang akan menjama duka harapku Yang akan terus bersamaku Diantara senyap dan ramaiku Sepiku tak izinkanku untuk  terlalu  merindumu Otakku tak mengizinkanku untuk  terlalu  memikirkanmu Karena aku tak tahu Apakah engkau yang tertulis dalam kitab takdirku Yang akan tetap di sampingku Kala senja kendurkan otot dan syarafku Yang akan menamparku Kala syithan palingkan kiblatku Atau dunia palingkan niatku Maafkan aku karena Tuhanku belum izinkanku Untuk tertunduk padamu, Tapi, bagiku, kamu adalah pasang yang tak pernah surut dihadapan do'a, yang ...
"Ruh-ruh laksana pasukan yang sedang dikerahkan. Maka, sejauh mana mereka saling mengenal, sejauh itu pula mereka akan saling bersatu. Dan, sejauh mana mereka tidak saling mengenal, sejauh itu pula mereka akan saling berselisih." (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud, dikutip dari Taman Orang-Orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah) #TentangCinta With Love, Farinda. :)