Pada saatnya nanti ananda akan menyadari bahwa cinta bukanlah tujuan akhir dalam hidupmu. Cinta pertama, cinta terakhir, atau cinta musiman itu hanya bagian dari rangkaian episode perjalanan hidupmu. Kepada siapa kau memberi cinta dan memasrahkan diri pada akhirnya juga tak relevan lagi. Orang-orang terdekat dalam hidupmu, mereka yang kau sebut cinta matimu, perannya tak lebih dari sekadar aktor pembantu. Mereka pernah memberi arti dan menghias hidupmu, mengisi hasrat dan harapanmu, ikut mewujudkan visi dan cita-citamu, namun hanya sampai sebatas itu. Pada saatnya nanti hanya ada kau dan kesendirianmu. Sesekali kau akan terkenang masa muda dan petualangan cintamu. Saat kau sendiri menghitung hari, menatap rona langit senja yang kian kelam, kenangan kisah-kisah cintamu akan datang silih berganti, namun orang-orang itu sudah pergi. Mereka mati, atau masih sibuk dalam pengembaraan hati mencari makna sejati hidup ini. Kesendirian adalah sesuatu yang niscaya akan kau hadapi. Boleh jadi dial...
Ajarkan aku mantra pemikat cinta Ahei dan Ashima, maka akan kutaklukkan penghalang segala rupa agar sampai cintaku padanya. *** Dewa dan Ra adalah busur dan anak panah. Keduanya memiliki bidikan yang sama, sebuah titik bernama istana cinta. Tapi arah angin mengubah Dewa. Sebagai busur, dia memilih sasarannya sendiri dan membiarkan anak panah melesat tanpa daya. Sebagai laki-laki pengagum mitologi, Zhongwen ibarat kesatria tanpa kuda. Sikapnya santun dan perangainya gagah, tapi langkahnya tak tentu arah. Dia berburu sampai negeri jauh untuk mencari Tuhan sekaligus menemukan Asma, anak panah yang sanggup meruntuhkan tembok besar yang membentengi hatinya. Dan di manakah Ra ketika dalam kegamangan Asma menelusuri Tembok China, menjejakkan kaki di pemakaman prajurit Terakota dan menjelajah dunia dongeng si cantik Ashima dari Yunnan? Dua nama, satu cinta. Ra yang mencampakkan Dewa. Asma yang berjuang melupakan lelaki berahang kukuh yang diam-diam memujanya. Bersama, me...
Surat Kecil Untuk Kawan Terbaik, Assalamualaikum Kawan, mungkin kita tidak pernah benar-benar bertemu, mungkin aku tidak tahu siapa namamu, atau apa yang sedang kau kerjakan saat ini. Tapi aku ingin kau tahu, bahwa jarak kita tidak pernah lebih jauh dari 11 milimeter. Kita sudah menjadi sahabat saat kau mendengar suaraku yang samar dan redup. Kita sudah menjadi sahabat saat kau merasakan apa yang aku nyanyikan. Dan, meskipun aku tidak tahu masalah apa yang membuatmu sesakit ini, tapi ketahuilah bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa Tuhan punya Maharencana terindah untukmu, bahwa semesta menyayangimu. Terimakasih telah membuatku merasa bahwa aku tak sendiri. Kau pun tak pernah sendiri jika mau membuka hati. Tetap mengagumkan, siapapun dirimu... Kawan Terbaik, With Love Farinda.
Komentar
Posting Komentar